Senin, 12 Desember 2011

At-Tafsir al-Wadhih


At-Tafsir al-Wadhih
(Karya Dr. Muhammad Mahmud Hijazi)

Pendahuluan

Dari banyaknya buku tafsir yang ada, kami menemukan buku yang berjudul "At-Tafsir al-Wadhih" lalu kami membuka surat ar-Ra'du ayat 35, tentang sifat-sifat surga lalu kami membacanya dengan seksama. Setelah itu kami tertarik dan ingin mengetahui bagainmana beliau membuat buku tafsir ini, metode apa yang beliau gunakan, bagaimana bentuk dan coraknya, dll.
Maka setelah kami meneliti buku tafsir ini kami menulisnya dalam makalah ini dengan berusaha menjelaskan dan menggambarkan buku tafsir ini dengan semampu kami. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Biografi pengarang

            Dalam pencarian biografi beliau kami tidak menemukan data-data tentang beliau mulai lahir sampai wafatnya, ini dikarenakan didalam bukunya tafsir al-Wadih, beliau tidak menulis biografinya dan profil beliau, bahkan dengan jalan internetpun kami tidak dapat menemukan biografinya. Akan tetapi ada sedikit penjelasan mengenai beliau, dia adalah merupakan salah seorang guru besar atau dosen di universitas al-Azhar, jurusan usuluddin di Mesir.


Latar Belakang Penulisan Kitab

Dalam pendahuluan buku tafsir ini ia menuliskan kenapa ia berkeinginan untuk menulis buku tafsir yang diberi judul dengan "At-Tafsir al-Wadhih", beliau menyatakan karena di dalam al-Qur'an terdapat banyak makna-makana dan rahasia-rahasia al-Qur'an yang belum terkuak dan sudah dijelaskan tetapi secara global saja.
Pada dasa warsa sekarang ini telah banyak kegiatan belajar-mengajar, maka dari itu muncullah pembelajaran yang berpokok kepada dua permasalahan yaitu: Pertama, banyaknya penilitian dari kalangan peneliti tentang hubungan manusia dengan lainnya, sehingga terjadilah perbedaan-perbedaan pemahaman tehadap undang-undang atau peraturan-peraturan yang telah dibuat, begitu pula kita masih melihat dan mendengar mereka terus memperbaharui bahkan mengganti peraturan-peraturan yang ada, setelah tahun berganti dengan tahun berikutnya mereka mengulangi pekerjaan sebelumnya dengan mengganti dan memperbaharuinya.[1]Kedua adalah bahwa banyak dari orang-orang kembali berwajah kepada al-Qur'an, seakan-akan mereka telah bosan terhadap realita yang ada, yang mana mereka berkesimpulan bahwa undang-undang yang dibuat belum berhasil dalam penanggulangan permasalahan-permasalahan kriminal dan belum bisa memberikan hak-hak mereka, tetapi justru sebaliknya menjadikan kehidupan mereka sangat buruk dan menprihatinkan, lau mereka berwajah kembali kepada al-Qur'an dengan berkeyakinan al-Qur'an adalah sebagai jalan keluar atas segala permasalahan yang ada, yang bisa membawa mereka kepada kehidupan yang bahagia dan lebih baik.[2]
Maka dari itu, Dr. Muhammad Mahmud Hijazi berhasrat untuk membantu mereka dengan menulis buku "At-Tafsir al-Wadhih" yang bertujuan bisa menjadi alat dalam mewujudkan kehidupan yang berlandaskan terhadap al-Qur'an.

Sistematika Penulisan Kitab

At-Tafsir al-Wadhih karya Dr. Muhammad Mahmud Hijazi juga tidak terlepas dari tafsir-tafsir terdahulu seperti yang dikatakan beliau "tafsir ini tidak terlepas jauh dari tafsir sebelumya, seperti al-Fajr, asy-Syihab, al-Ulusi, ath-Thabari dan al-Qurthubi".[3]Secara deskriptif dan langkah-langkah yang digunakannya adalah sebagai berikut:
1.      Menjelaskan arti dari nama surat dan kandungan dan pokok-pokok apa saja yang terdapat didalamnya.
2.      Penjelasan kosa kata (Syarhu al-Mufradat) yang terdapat didalam ayat yang dirasa sukar menurut ukurannya. Dengan demikian tidak dijelaskan seluruh kosakata yang ada tetapi sebagiannya saja yang dianggap sukar.
3.      Penjelasan (al-Idhah), pada langkah ini, beliau memberikan penjelasan yang luas dengan dibarengi asbab an-Nuzul jika ada. Terkadang ia menjelaskan tafsir ayat dengan ayat lain dan bahkan penjelasan para ulama terdahulu yang dianggapnya baik atau sahih.
4.      Pada langkah terakhir biasanya beliau memberikan penjelasan pada surat yang dianggap penting atau yang bersangkutan dengan ilmu tafsir seperti apa macam surat ini makkiyah atau madaniyyah.

.Metode, Bentuk dan Corak Penafsiran

Dilihat dari sudut metodologi at-Tafsir al-Wadhih menggunakan metode uaraian rincian dengan ringkas tanpa basa-basi, hal ini bisa kita lihat dalam tafsirnya, seperti kata Allah dalam Bismillahirrahmanirrahim, beliau langsung menjelaskan Allah adalah suatu dzat yang paling tinggi.[4]
Beliau juga menggunakan tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an, seperti dalam menjelaskan sifat-sifat surga yang dijanjikan Allah pada surat ar-Ra'du ayat 35 beliau menjelaskan dengan surat Muhammad ayat 15.[5]
Kalau kita melihat lebih dalam dan kritis tentang metode yang digunakannya, beliau banyak menggunakan ilmu-ilmu yang ada pada sekarang, seperti psikologi, sosiologi, antropologi, historis, ekonomi budaya dan segala yang dapat membantu beliau dalam penafsirannya yang bisa diterima akal. Sebagimana beliau menyatakan bahwa surga yang dijanjikan Allah itu tidaklah seperti yang termaktub pada teks al-Qur'an, karena seandainya surga seperti itu maka kitapun pernah merasakan keenakannya didunia ini walaupun diakhirat lebih enak. Jika ditinjau dengan pendekatan psikologi , budaya dan histories lahirnya ayat itu, maka pendapat beliau bisa diterima, beliau menyatakan ayat ini lahir atau turun di Arab, yang mana di dataran tanah Arab itu sangatlah gersang dan jarang sekali pohon-pohon yang tumbuh dan tidak adanya sungai yang mengalir, maka dari tiu Allah menggambarkan surga itu dengan sebuah perkebunan yang rindang terdapat buah-buahan yang enak ditambah sungai-sungai yang mengalir didalamnya[6]. Hal ini supaya teks al-Qur'an itu pas dengan bangsa itu, tetapi kalau di Indonesia itu sudahlah sangat biasa dengan perkebunan dan sungai. Oleh karena itu beliau berpendapat surga yang dijanjikan Allah tidaklah sperti yang digambarkan dalam teks tetapi surga yang dijanjikan Allah lebih dari itu.[7]
Dari contoh diatas kita dapat menyimpulkan bahwa pemikiran beliau dalam penafsirannya harus sesuai denagan akal dan sesuai dengan zamannya walaupun tidak semua ayat al-Qur'an tidak sejalan dengannya, tetapi beliau terus berusah untuk bisa diterima oleh akal.

Contoh Dari at-Tafsir al-Wadhih

Tafsir Qur'an Surat Al-Ikhlash

Makkiyah, terdiri dari 4 ayat, surat tauhid dan pensucian nama Allah Ta'ala. Ia merupakan prinsip pertama dan pilar utama Islam. Oleh karena itu pahala membaca surat ini disejajarkan dengan sepertiga Al-Qur'an. Karena ada tiga prinsip umum: tauhid, penerapan hudud dan perbuatan hamba, serta disebutkan dahsyatnya hari Kiamat. Ini tidaklah mengherankan bagi orang yang diberi karunia untuk membacanya dengan tadabbur dan pemahaman, hingga pahalanya disamakan dengan orang membaca sepertiga Al-Qur'an.

1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."

Syarah:

Inilah prinsip pertama dan tugas utama yang diemban Nabi saw. Beliau pun menyingsingkan lengan baju dan mulai mengajak manusia kepada tahuhid dan beribadah kepada Allah yang Esa. Oleh karena itu di dalam surat ini Allah memerintahkan beliau agar mengatakan, "Katakan, 'Dialah Allah yang Esa." Katakan kepada mereka, ya Muhammad, "Berita ini benar karena didukung oleh kejujuran dan bukti yang jelas. Dialah Allah yang Esa. Dzat Allah satu dan tiada berbilang. Sifat-Nya satu dan selain-Nya tidak memiliki sifat yang sama dengan sifat-Nya. Satu perbuatan dan selain-Nya tidak memiliki perbuatan seperti perbuatan-Nya.

Barangkali pengertian kata ganti 'dia' pada awal ayat adalah penegasan di awal tentang beratnya ungkapan berikutnya dan penjelasan tentang suatu bahaya yang membuatmu harus mencari dan menoleh kepadanya. Sebab kata ganti tersebut memaksamu untuk memperhatikan ungkapan berikutnya. Jika kemudian ada tafsir dan penjelasannya jiwa pun merasa tenang. Barangkali anda bertanya, tidakkah sebaiknya dikatakan, "Allah yang Esa" sebagai pengganti dari kata, "Allah itu Esa." Jawabannya, bahwa ungkapan seperti ini adalah untuk mengukuhkan bahwa Allah itu Esa dan tiada berbilang Dzat-Nya.
Kalau dikatakan, "Allah yang Maha Esa," tentu inplikasinya mereka akan meyakini keesaan-Nya namun meragukan eksistensi keesaan itu. Padahal maksudnya adalah meniadakan pembilangan sebagaimana yang mereka yakini. Oleh karena itu Allah berfirman, "Dia-lah Allah, Dia itu Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu."Artinya tiada sesuatu pun di atas-Nya dan Dia tidak butuh kepada sesuatu pun. Bahkan selain-Nya butuh kepada-Nya. Semua makhluk perlu berlindung kepada-Nya di saat sulit dan krisis mendera. Maha Agung Allah dan penuh berkah semua nikmat-Nya."Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan"
Ini merupakan pensucian Allah dari mempunyai anak laki-laki, anak perempuan, ayah, atau ibu. Allah tidak mempunyai anak adalah bantahan terhadap orang-oran musyrik yang mengatakan bahwa malaikat itu anak-anak perempuan Allah, terhadap orang-orang Nashrani dan Yahudi yang mengatakan 'Uzair dan Isa anak Allah. Dia juga bukan anak sebagaimana orang-orang Nashrani mengatakan Al-Masih itu anak Allah lalu mereka menyembahnya sebagaimana menyembah ayahnya. Ketidak-mungkinan Allah mempunyai anak karena seorang anak biasanya bagian yang terpisah dari ayahnya. Tentu ini menuntut adanya pembilangan dan munculnya sesuatu yang baru serta serupa dengan makhluk. Allah tidak membutuhkan anak karena Dialah yang menciptakan alam semesta, menciptakan langit dan bumi serta mewarisinya. Sedangkan ketidak-mungkinan Allah sebagai anak, karena sebuah aksioma bahwa anak membutuhkan ayah dan ibu, membutuhkan susu dan yang menyusuinya. Maha Tinggi Allah dari semua itu setinggi-tingginya. "Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. "Ya. Selama satu Dzat-Nya dan tidak berbilang, bukan ayah seseorang dan bukan anaknya, maka Dia tidak menyerupai makhuk-Nya. Tiada yang menyerupai-Nya atau sekutu-Nya. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.
Meskipun ringkas, surat ini membantah orang-orang musyrik Arab, Nashrani, dan Yahudi. Menggagalkan pemahaman Manaisme (Al-Manawiyah) yang mempercayai tuhan cahaya dan kegelapan, juga terhadap Nashrani yang berpaham trinitas, terhadap agama Shabi'ah yang menyembah bintang-bintang dan galaksi, terhadap orang-orang musyrik Arab yang mengira selain-Nya dapat diandalkan di saat membutuhkan, atau bahwa Allah mempunyai sekutu. Maha Tinggi Allah dari semua itu.
Surat ini dinamakan Al-Ikhlas, karena ia mengukuhkan keesaan Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Dia sendiri yang dituju untuk memenuhi semua kebutuhan, yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, tiada yang menyerupai dan tandingan-Nya. Konsekuensi dari semua itu adalah ikhlas beribadah kepada Allah dan ikhlas menghadap kepada-Nya saja.

Penutup

Setelah kita menjelaskan uraian diatas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa at-Tafsir al-wadhih karya Dr. Muhammad Mahmud Hijazi menggunakan metode uraian terperinci tetapi secara ringkas dan tanpa basa-basi. Selain itu beliau menafsirkan ayat dengan ayat lain dan berbentuk tafsir bilra'yi, akan tetapi tafsir bilra'yi ini tidak mutlak karena terkadang beliau menggunakan ayat lain dalam penjelasannya. Beliau juga yang sangat mengedepankann akal walaupun tidak menutup mata dengan dalil-dalil naqli yang ada.

Refrensi

Muhammad Mahmud Hijazi, At-Tafsir al-Wadhih", Darul-Jail, Beirut, Lebanon, tt.


[1] Muhammad Mahmud Hijazy, At-Tafsir al-Wadhih Jilid 1-10,  Darul-Jail, Bairut, tt, hal 5.
[2] Ibid, 6.
[3] Ibid 5.
[4] Ibid 10
[5] Ibid 237.
[6] QS: Muhammad: 15
[7] Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar